Sepiring Bubur Kacang Hijau - Mustofa Abi Hamid Official Site

Update

Saturday, July 14, 2018

Sepiring Bubur Kacang Hijau

Semburat mentari senja yang menjingga terpancar dari sela-sela jendela. Dari arah dapur, mengepul asap aroma masakan ibu. Kedatanganku pagi ini, disambut ibuku dengan kegembiraan yang terpancar dari wajahnya yang mulai menua. Setiap aku datang – pulang kampung – ibu selalu memasakkanku dengan masakan kesukaanku. Makanan kesukaanku cukup sederhana. Dessert – makanan penutup – kesukaanku adalah bubur kacang hijau.
Sore ini, ibuku membuatkan bubur kacang hijau spesial. Aroma khasnya tercium hingga kembali menggugah selera makanku. Sendok demi sendok kumakan bubur kacang hijau buatan ibuku. Mendadak aku teringat pada memori masa lalu dimana masa kecilku dulu aku suka mengejar-ngejar penjual bubur kacang hijau keliling yang berkeliling menjajakan bubur kacang hijaunya di desaku. Namanya pak Sungkono. Bubur pak Sungkono merupakan favoritku kala itu. Semangku bubur dulu dihargai Rp. 100 saja. Sekarang, tak tau dimana rimbanya pak Sungkono penjual bubur kacang hijau di masa kecilku dulu.
Sepiring Bubur Kacang Hijau
Pernah suatu ketika, aku baru masuk kuliah semester satu pada jenjang sarjana, ibu dan bapakku menjenguk ke tempat indekostku dengan membawakan 1 termos besar bubur kacang hijau. Sontak aku kaget, tak dinyana ibu dan bapak menjengukku ke kampus dengan membawakan makanan favoritku.  

Hingga saat ini, seleraku tak berubah, bubur kacang hijau buatan ibuku tetap yang nomor satu. Bahkan saat aku sudah beranjak dewasa dan mau berkeluarga. Masakan ibuku tetap nomor satu. Ini yang membuatku kangen dengan kampung halamanku. Ibu, I love you so much. I love you forever!

Batanghari, 14 Juli 2018

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here