Malang – Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (FT UMM) kembali mengukuhkan lulusan terbaiknya melalui Yudisium Sarjana dan Sumpah Profesi Insinyur Periode III Tahun 2026 di Aula GKB IV Lantai 9 UMM. Sebanyak 78 lulusan Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI) resmi menyandang profesi insinyur setelah menjalani prosesi pengambilan sumpah, Rabu (19/8/2026).
Prosesi yudisium dan sumpah profesi tersebut berlangsung khidmat. Namun, rangkaian kegiatan tidak berhenti pada seremoni pengukuhan. FT UMM juga menjadikan momentum tersebut sebagai ruang untuk mengingatkan para lulusan mengenai tanggung jawab profesi, legalitas praktik keinsinyuran, peluang pengembangan kompetensi, serta tantangan dunia teknik di tengah percepatan digitalisasi dan transisi energi.
Sebelum prosesi utama dimulai, peserta memperoleh pembekalan mengenai pentingnya pendidikan profesi dan legalitas praktik keinsinyuran. Dr. Ir. Moh. Abduh, S.T., M.T., IPU., ACPE., ASEAN Eng., menjelaskan bahwa kompetensi akademik sebagai lulusan sarjana teknik perlu dilengkapi dengan kompetensi profesional dan legalitas sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
![]() |
| Dr. Ir. Moh. Abduh, S.T., M.T., IPU., ACPE., ASEAN Eng. Ketua Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI) FT UMM |
Mengacu pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2019, praktik keinsinyuran memiliki konsekuensi hukum. Karena itu, lulusan teknik yang akan menjalankan praktik keinsinyuran perlu memahami kewajiban profesional, termasuk kepemilikan Surat Tanda Registrasi Insinyur (STRI) sesuai ketentuan yang berlaku.
Pesan tersebut menjadi penting karena profesi insinyur tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis. Keputusan dan pekerjaan seorang insinyur dapat berhubungan langsung dengan keselamatan manusia, keamanan infrastruktur, lingkungan, serta kepentingan publik. Karena itu, profesionalisme, integritas, dan kepatuhan terhadap kode etik menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kompetensi seorang insinyur.
Dari Kampus Menuju Dunia Profesional
Semangat penguatan kompetensi juga terlihat dari pengenalan program Magister Rekayasa Energi Terbarukan (RET) yang ditawarkan UMM. Program pascasarjana tersebut dirancang dengan skema hybrid dan dapat ditempuh dalam tiga semester.
Bidang energi terbarukan menjadi salah satu kompetensi strategis yang semakin dibutuhkan seiring meningkatnya kebutuhan terhadap sistem energi yang lebih berkelanjutan. Untuk mendukung proses pembelajaran, UMM memiliki sejumlah fasilitas pengembangan energi, antara lain Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH), Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), dan instalasi biogas.
Program tersebut juga menyediakan peluang pengembangan riset melalui skema hibah BIMA serta jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) bagi lulusan profesi insinyur. Bagi alumni internal UMM, tersedia pula potongan SPP sebesar 15 persen.
Dengan demikian, kelulusan profesi insinyur tidak diposisikan sebagai akhir perjalanan akademik. Para lulusan justru didorong untuk terus memperbarui pengetahuan dan memperkuat kompetensi di bidang yang berkembang cepat, khususnya energi, teknologi digital, dan rekayasa berkelanjutan.
Khidmatnya Sumpah Profesi
Suasana prosesi berubah semakin khidmat ketika jajaran pimpinan fakultas, pimpinan program studi, serta perwakilan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Jawa Timur memasuki ruangan. Rangkaian acara diawali dengan lantunan ayat suci Al-Qur'an. Setelah itu, seluruh peserta menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, Mars Muhammadiyah, dan Mars PII.
Dekan Fakultas Teknik UMM, Prof. Dr. Ir. Sulianto, M.T., secara resmi membuka acara. Dalam sambutannya, ia mengingatkan bahwa gelar dan profesi baru yang diperoleh para lulusan membawa konsekuensi tanggung jawab yang jauh lebih besar.
"Integritas dan moralitas adalah harga mati. Lulusan FT UMM harus memberikan kontribusi nyata di tengah krisis energi dan masifnya digitalisasi," tegas Prof. Sulianto.
Pesan tersebut kemudian dipertegas melalui ajakan untuk melihat profesi insinyur bukan hanya sebagai jalur karier, melainkan sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Di tengah berbagai persoalan pembangunan, seorang insinyur dituntut mampu menghadirkan solusi yang aman, efektif, efisien, berkelanjutan, dan berpihak pada kepentingan publik.
![]() |
Dalam kesempatan yang sama, Prof. Sulianto mengajak seluruh hadirin mengheningkan cipta dan berdoa bagi masyarakat yang terdampak bencana alam di Nusa Tenggara Timur (NTT). Momen tersebut menghadirkan suasana reflektif di tengah perayaan kelulusan.
Membuka Jalan ke Tingkat ASEAN
Dimensi profesional dan internasional juga menjadi bagian dari pembekalan kepada para lulusan. Mewakili Ketua Umum PII Pusat, Dr. Ilham Akbar Habibi, Sekretaris PII Wilayah Jawa Timur, Ir. Zikri Pramudia Alfarhisi, S.T., M.T., IPM., menyampaikan orasi ilmiah.
Ia memaparkan program strategis mengenai Indeks Keinsinyuran Daerah yang dikembangkan bersama Kementerian Dalam Negeri. Program tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pemetaan dan pengembangan sumber daya insinyur di berbagai daerah. Para lulusan juga diperkenalkan dengan peluang pengakuan kompetensi pada tingkat regional melalui ASEAN Engineering Register (AER). Momentum penguatan jejaring profesional tersebut turut dikaitkan dengan pelaksanaan Conference of the ASEAN Federation of Engineering Organisations (CAFEO) 44 di Bandung.
Bagi lulusan yang ingin membangun karier lintas negara, pengakuan kompetensi profesional di tingkat ASEAN dapat menjadi salah satu jalur untuk memperluas peluang sekaligus meningkatkan daya saing insinyur Indonesia.
Wakil Dekan I FT UMM, Prof. Dr. Ir. Machmud Effendi, S.T., M.Eng., IPM., ASEAN Eng. membacakan Surat Keputusan Kelulusan. Dari total 78 lulusan Program Profesi Insinyur, sebanyak 77 orang atau hampir seluruhnya meraih predikat pujian (cumlaude). Capaian tersebut menjadi salah satu penanda bahwa program profesi tidak hanya menghasilkan lulusan dalam jumlah besar, tetapi juga memberikan ruang bagi pencapaian akademik yang sangat tinggi.
Pada jenjang sarjana, FT UMM juga meluluskan ratusan mahasiswa dari lima program studi, dengan rincian:Program Studi Teknik Sipil 95 lulusan, Teknik Informatika 66 lulusan, Teknik Mesin 51 lulusan, Teknik Industri 27 lulusan, dan Teknik Elektro 7 lulusan.
Dengan mengukuhkan 78 insinyur baru dan meluluskan ratusan sarjana teknik, FT UMM menempatkan momentum yudisium kali ini sebagai bagian dari upaya menyiapkan sumber daya manusia teknik yang mampu merespons perubahan zaman. Tantangannya bukan hanya perkembangan teknologi digital, tetapi juga kebutuhan terhadap energi berkelanjutan, pembangunan infrastruktur yang aman, serta meningkatnya tuntutan kompetensi profesional di tingkat nasional dan ASEAN.
Di antara puluhan insinyur yang dikukuhkan, Mustofa Abi Hamid mencatat capaian akademik yang baik. Ia dinyatakan lulus Program Profesi Insinyur dengan predikat cumlaude, meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4,00, sekaligus memperoleh penghargaan sebagai Lulusan Terbaik I. Prestasi tersebut diraih dalam masa studi enam bulan.
Pencapaian itu menempatkan Mustofa sebagai salah satu lulusan yang tidak hanya berhasil menyelesaikan pendidikan profesi, tetapi juga menunjukkan performa akademik tertinggi dalam periode kelulusan tersebut. Setelah pengambilan sumpah, gelar Ir. menandai dimulainya tanggung jawab baru sebagai seorang insinyur profesional.
Sumpah Profesi Menandai Tanggung Jawab Baru
Puncak acara berlangsung saat seluruh lulusan mengikuti Pengambilan Sumpah Profesi Insinyur yang dipimpin oleh Ir. Zikri Pramudia Alfarhisi.
Sumpah tersebut menjadi titik penting karena sejak saat itu para lulusan tidak hanya membawa gelar akademik, tetapi juga menyandang identitas sebagai insinyur profesional dengan tanggung jawab terhadap keselamatan, kepentingan masyarakat, lingkungan, dan pembangunan.
Prosesi dilanjutkan dengan penyematan safety helmet secara simbolis kepada lulusan terbaik. Helm keselamatan tersebut bukan sekadar atribut, tetapi menjadi simbol bahwa keselamatan kerja merupakan bagian fundamental dari praktik keinsinyuran.
Para lulusan kemudian membacakan kode etik Catur Karsa dan Sapta Dharma Insinyur Indonesia sebelum dikukuhkan satu per satu. Rangkaian pengukuhan berlangsung dalam suasana penuh kebanggaan dan haru, diiringi lagu-lagu daerah yang semakin memperkuat nuansa kebangsaan.
Dari Gelar Menuju Pengabdian
Mewakili lulusan PSPPI, Ir. Zainal Abidin menyampaikan kesan dan pesan pada penghujung acara. Ia mengungkapkan apresiasi atas proses pendidikan yang telah dijalani para peserta selama dua semester dan menekankan makna sumpah profesi yang baru saja diucapkan.
"Sumpah yang baru saja kita ucapkan bukan sekadar gelar profesi, melainkan amanah besar untuk menjaga keselamatan kerja, menjunjung tinggi profesionalisme, dan mendorong kemajuan bangsa Indonesia," ujarnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penutup yang menegaskan pesan utama yudisium dan sumpah profesi FT UMM, pendidikan teknik pada akhirnya tidak berhenti pada capaian akademik.
Gelar Ir. membawa konsekuensi profesional. Di baliknya terdapat tuntutan untuk bekerja dengan kompetensi, menjaga integritas, mengutamakan keselamatan, mematuhi kode etik, serta memberikan solusi atas persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Bagi para lulusan, prosesi tersebut bukanlah garis akhir pendidikan. Ia justru menjadi awal dari babak baru, membawa ilmu, kompetensi, dan sumpah profesi ke ruang kerja dan kehidupan masyarakat – dengan tanggung jawab untuk memastikan bahwa setiap keputusan keinsinyuran memberikan manfaat dan tidak mengorbankan keselamatan publik.
Galeri Foto Dokumentasi:
Malang, 19 Agustus 2026






.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)

No comments:
Post a Comment