Menjadi Dewan Redaksi Jurnal Ilmiah itu Ibadah - Mustofa Abi Hamid Official Site

Update

Tuesday, January 8, 2019

Menjadi Dewan Redaksi Jurnal Ilmiah itu Ibadah

Mengelola jurnal ilmiah itu butuh kesabaran ekstra, ketelatenan, keuletan, kedisiplinan, dan wawasan yang luas. Bagaimana tidak, setiap kali akan menerbitkan jurnal, hampir dapat dipastikan banyak sekali artikel-artikel yang masuk ke dewan redaksi. Sehingga, dewan redaksi harus memproses artikel-artikel tersebut sebelum dipublikasikan secara berkala melalui jurnal tersebut.

Penulis mengharapkan artikel yang dikirimkan ke dewan redaksi dapat diproses secara cepat karena untuk berbagai kebutuhan penulis, mulai dari pengajuan angka kredit (PAK) jabatan fungsional dosen, luaran hibah penelitian, tagihan sertifikasi dosen (serdos) dan berbagai kebutuhan lainnya yang membutuhkan luaran berupa artikel ilmiah yang dipublikasikan pada jurnal ilmiah. Sehingga, terkadang banyak penulis yang "tidak sabaran" atau mencoba menekan dewan redaksi agar artikelnya dapat diterbitkan. Namun, di sinilah peran dewan redaksi harus bekerja secara profesional tanpa adanya conflict of interest.

Dewan redaksi harus berwawasan luas dalam menilai, memilah dan memilih artikel-artikel yang terbaik yang layak terbit. Menjaga hubungan baik dengan para reviewer yang membantu dalam mereviu artikel agar kualitas artikel yang diterbitkan oleh jurnal dapat terjaga dengan baik. Penulis yang menyerahkan artikelnya (submit) secara asal-asalan tentunya akan langsung ditolak (reject) oleh dewan redaksi jurnal.

Dewan redaksi jurnal harus disiplin dan pandai membagi waktu, sebab jika tidak, artikel yang sudah masuk akan menumpuk dan menghambat proses penerbitan sebuah jurnal. Belum lagi, para dewan redaksi jurnal yang kebanyakan berprofesi sebagai dosen dan juga peneliti ini lebih banyak mengurus/memproses artikel milik orang lain yang akan terbit di jurnal yang dikelola daripada menulis artikelnya sendiri yang akan diterbitkan pada jurnal juga. Maka, manajemen waktu harus diperhatikan dengan baik agar artikel sendiri dan orang lain dapat terselesaikan dengan baik sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

Belum lagi, masalah klasik seperti kurangnya support dari perguruan tinggi dalam hal pendanaan, penyediaan sarana dan prasarana pengelolaan jurnal yang memadai, serta kurangnya sumber daya manusia dalam tim pengelola tersebut. Dalam pertemuan antar dewan redaksi dan pengelola jurnal selalu curhat tentang masalah-masalah klasik tersebut yang tak kunjung usai dan menemui titik penyelesaian yang memuaskan untuk peningkatan pengelolaan jurnal.

Dari semua permasalahan yang ada, para pengelola jurnal tetap bekerja secara profesional. Barang siapa yang memudahkan urusan orang lain --dalam hal ini pengelolaan artikel jurnal-- niscaya Allah akan memudahkan urusan kita. Jadi, menjadi dewan redaksi dan pengelola jurnal ilmiah itu ibadah. Biarlah Allah, Tuhan semesta alam yang akan membalas kebaikan para dewan redaksi/pengelola jurnal. 

Rapat awal tahun 2019 bersama para pengelola jurnal ilmiah

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here