Inovasi atau Mati! - Mustofa Abi Hamid Official Site

Update

Wednesday, December 25, 2019

Inovasi atau Mati!

Baru-baru ini kampus tempat saya mengabdi merilis sebuah interface baru, tampilan baru Sistem Informasi Akademik (Siakad) dengan tempilan yang lebih fresh, tidak kaku, dan user interface-nya menerapkan teori UI/UX kekinian. Terdapat inovasi dengan menambah fitur yaitu dapat import/export file nilai yang akan diinputkan ke dalam Siakad dengan file Microsoft Excel. Dalam fitur tersebut, juga terdapat isian nilai dari setiap komponen yang dinilai dari perkuliahan yang diampu, terdapat presentase penilaiannya, sehingga nilai yang dikeluarkan menjadi lebih transparan. Darimana saja nilai A/B/C/D/E berasal, mahasiswa dapat mengetahuinya, bahkan juga dapat, "ikut" menghitung dan mengoreksi komponen nilai tersebut, barangkali ada kesalahan teknis atau human error dalam menginput nilai ke dalam sistem.
Respon yang muncul amat beragam, ada yang senang, excited, biasa aja, bahkan menolak dengan segala macam alasan. Berdasarkan penemuan penelitian ilmiah yang dilakukan dan disajikan oleh Everett M. Rogers dalam bukunya yang berjudul "Diffusion of Innovations" menggunakan ukuran "inovasi" untuk membedakan kategori yang berbeda dari pengadopsi (orang yang akan mengadopsi perubahan atau inovasi tersebut). Adopsi ide baru, perilaku, atau produk (yaitu,"inovasi ") tidak terjadi secara bersamaan dalam sistem sosial; melainkan merupakan proses dimana beberapa orang lebih cenderung untuk mengadopsi inovasi daripada yang lain. Para peneliti telah menemukan bahwa orang yang mengadopsi inovasi awal memiliki karakteristik yang berbeda daripada orang yang mengadopsi inovasi kemudian. 

Ada beberapa tipe atau kategori dari "adopter" tersebut, setidaknya menurut Rogers (1962) ada 5, yaitu: 
1. Innovator, yakni mereka yang pertama mengadopsi suatu inovasi. Hanya ada sekitar 2,5% individu yang yang berani menjadi seorang inovator. Ciri utama individu tersebut biasanya menyukai tantangan dan berani mengambil resiko serta memiliki kemampuan ekonomi yang mendukung untuk menjadi seorang inovator.
2. Early adopters (Pelopor/Perintis), yaitu mereka yang memulai inovasi ke dalam suatu kelompok "jaringan" mereka. Tidak banyak, hanya sekitar 13,5% orang yang memiliki kategori ini. Biasanya mereka merupakan orang yang terpandang dan memiliki pengikut dalam suatu kelompok sosial. Dalam hal case ini, pelopor/perintis di sini bisa rektor, wakil rektor, dekan, wakil dekan, dll. Dibandingkan dengan inovator, pengadopsi awal berorientasi lebih ke arah jaringan/rekan mereka. Mereka dihormati oleh rekan-rekannya, yang sering merujuk kepada mereka untuk saran dan informasi tentang inovasi. Pengadopsi awal berfungsi sebagai model peran untuk anggota lain dari sistem sosial. Begitu mereka telah mengadopsi sebuah inovasi, mereka mengkomunikasikan evaluasi mereka untuk rekan mereka, yang menggunakan evaluasi ini untuk mengurangi ketidakpastian mereka sendiri tentang inovasi. 
3. Early majority (Pengikut dini), jumlahnya sekitar 34 % dalam suatu kelompok sosial tertentu. Biasanya mereka yang masuk dalam kategori ini bercirikan memiliki pertimbangan yang matang dalam mengambil keputusan. Orang-orang dalam kategori ini biasanya bukan pemimpin, tetapi mereka mengadopsi gagasan baru sebelum diadopsi oleh khalayak umum atau mayoritas orang-orang yang akan mengadopsi kemudian.
4. Late majority (pengikut akhir), jumlahnya 34% dalam suatu kelompok sosial dimana mereka lebih memiliki pertimbangan pragmatis kepada kebenaran dan kebermanfaatan suatu inovasi yang akan diadopsi mereka. Biasanya yang masuk dalam katogori ini merupakan orang-orang yang skeptis terhadap perubahan, dan hanya akan mengadopsi inovasi setelah telah dicoba oleh mayoritas. Mereka akan mencoba setelah mayoritas orang lain berhasil mencobanya. 
5. Laggards (Kelompok Kolot/Tradisional), Kelompok ini merupakan kelompok terakhir yang paling sulit menerima suatu inovasi. Jumlahnya sekitar 16% dari suatu kelompok sosial. Dimana kaum ini  merupakan kaum kolot/tradisional yang sangat skeptis dan sangat sulit menerima perubahan. 

Kurva jumlah pengadopsi inovasi baru (Rogers, 1962)
Jadi, sudah tau 'kan, jika ada inovasi baru muncul, Anda di posisi apa? Apakah inovator? Early adopters, atau bahkan Laggards yang kolot dan tradisional yang tidak mau perubahan?

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad