Menjaga Konsistensi Membaca dan Menulis - Mustofa Abi Hamid Official Site

Update

Sunday, July 8, 2018

Menjaga Konsistensi Membaca dan Menulis

Membaca dan menulis itu butuh konsistensi dan keajegan (kalau kata pak ustadz perlu ke-istiqomah-an). Pertama, membaca perlu dibiasakan sejak dini. Saya mulai membaca sejak duduk di bangku TK saat belajar membaca dan menulis. Pada waktu itu, saya suka membaca majalah Tiko dan Bobo yang saya pinjam dari TK tempat saya belajar. Ternyata, wajah kak Seto sudah tidak asing bagi saya karena sering muncul di majalah Tiko yang saya baca itu. Ada beberapa majalah Tiko dan Bobo yang dibelikan oleh orang tua. Maklum, perekonomian keluarga pada masa awal-awal dulu masih belum begitu stabil.
Untuk mengatasi haus akan buku bacaan, saya suka datang ke sekolah lebih awal untuk memilih buku bacaan dan/atau mainan sebelum teman-teman TK mendahuluinya. Masuk SD, saya suka baca komik Tatang S. yang saya dapatkan dari membeli di tempat “mamang mainan” yang berjualan di sekolah atau saat ada orang hajatan. Koleksi buku saya waktu itu banyak lho. Ibu dan bapak saya selalu mendukung dengan kebiasaanku membeli buku-buku bacaan apa saja waktu itu. Uang saku yang diberikan ke saya waktu itu banyak yang saya sisihkan untuk membeli buku komik dan buku-buku yang menurut saya menarik. Kadang, bapak saya selepas mengajar di pondok pesantren Al-Qodiri Pekalongan membawakan saya buku bacaan tentang keagamaan atau sirah (sejarah) para nabi dan sahabat nabi dari perpustakaan pondok.
Kebiasaan membaca ini terus saya tekuni sampai saya kuliah hingga saat ini. Tetapi, hati-hati ya jangan kebanyakan membaca media sosial apalagi yang belum jelas kebenaran berita yang dibagikan di media sosial. Hehe
Menulislah, maka kamu akan abadi. Ilustrasi dari EdSurge.com
Selain membaca, saya juga suka menulis. Ya menulis apa saja. Dulu, saya suka menulis cerita, menulis pelajaran (red: mencatat), sampai ada yang memelesetkan singkatan kurikulum CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) menjadi Catat Buku Sampai Abis. Wkwkwkwk. Menulis bisa dilakukan dimana saja dengan menggunakan media apa saja. Menulis di buku tulis maupun menggunakan laptop.
Kemudian, saya mulai mengenal blog sekitar tahun 2008. Saya mulai menulis melalui media blog. Ya, icak-icaknya menjadi blogger abal-abal. Menulis apa saja, hingga blog saya menjadi bertema gado-gado alias gak jelas dan gak punya niche khusus.
Sampai sekarang pun, saya juga masih menulis. Masih menulis apa saja. Menulis formal ilmiah untuk tulisan artikel penelitian pada jurnal ilmiah, menulis laporan proyek, menulis borang akreditasi dan segala tetek bengek tulisan ilmiah lainnya. Apalagi, kalau ada orang yang mengutip (mensitasi) artikel jurnal ilmiah yang kita tulis, wah senang sekali. Rasanya, tulisan ilmiah tersebut dapat memberikan manfaat dan berdampak bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
Saya juga masih menulis hal-hal remeh temeh yang saya posting di blog. Yang jelas, menulis itu harus terus diasah setiap hari.
Saya heran dengan mahasiswa saya yang sedang menulis laporan praktik industri sampai setahun lebih laporan tersebut tidak selesai juga. Kemampuan menulisnya masih rendah, perlu diasah dan dibiasakan setiap hari.
Yuk, membaca dan menulis. Membaca untuk membuka jendela wawasan kita, kemudian menulis untuk mengabadikan pemikiran kita yang diinspirasi dari bacaan ataupun dari apa saja yang kita temui dan lalui setiap hari.
Waba’du. Al-Ghazali bilang, “Bila kau bukan anak raja, maka menulislah.” Karena dengan tulisanmu, kamu akan dikenang sepanjang masa. Akan abadi dengan tulisan-tulisan tersebut.

Kota Serang, 08 Juli 2018

Ditulis disela-sela waktu menggarap laporan proyek dari perusahaan BUMN. J

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here